Motivasi Besar Dibalik Keputusan Ducati Memilih ‘OPEN CLASS’

desmoGP14_2014_open

Salam Pembaca Sekalian, Maret perdana. Sebuah langkah perubahan wajib diambil, jika memang jalan yang selama ini dilalui tak lagi memberikan harapan pasti. Itulah yang dilakukan Ducati Corse sebagai upaya menjadikan tim yang akan berkompetisi di motogp 2014 menjadi lebih kompetitif.

Seiring dengan selesainya tes di hari ke-3 sepang malaysia pada 28 februari 2014 sekaligus sebagai batas waktu berakhirnya keputusan memilih factory atau oepen class, ducati menentukan pilihan. Yup, melalui manajer umu ducati corse Gigi Dall’Igna mengabarkan tim Ducati akan berpindah regulasi dari sebelumnya berada dikelas factory atau pabrikan berpindah ke ‘Open Class’.

Tak hanya tim factory yang memutuskan pindah, namun semua entry ducati motogp memutuskan akan menggunakan regulasi baru open class musim ini. Bagi Gigi Dall’Igna, alasan mendasar pilihan tersebut adalah kebebasan yang dimiliki tim dengan solusi ‘Open Class’.  Meskipun Gigi Dall’Igna terkesan dengan hasil hari terakhir tes sepang dimana Dovi menempel ketat di posisi ke-3 dengan waktu 0,068 detik lebih lambat namun belum merasa puas.

Meskipun dibatasi oleh ECU yang ditentukan sendiri oleh pihak penyelenggara dalam hal ini Dorna, ‘open class’ masih memiliki cukup keuntungan diantaranya bahan bakar 4 liter lebih banyak, 12 mesin dalam satu tahun kompetisi dan lainnya. Salah satu faktor utama, dengan open class, Ducati lebih bebas dalam pengembangan mesin tanpa terikat regulasi pembekuan mesin yang akan diterapkan pada tim factory/pabrikan.

Itukah yang harapkan oleh Ducati? Jawabnya adalah Ya. Selama era Rossi bergabung bersama Ducati, Rossi dan tim begitu cerewetnya menginginkan chasis yang sesuai dengan keinginannya hingga akhirnya rangka deltabox layaknya yamaha diaplikasikan sebagai usaha membuat desmosedici lebih jinak.

Gagal? Tidak. Mungkin bagi banyak orang bisa menyebut gagal, namun nyatanya Ducati mengalami peningkatan sejak di kembangkan oleh Rossi. Satu hal yang menemui jalan buntu adalah pengembangan mesin saat era Rossi berada di Ducati. Salah satu sebabnya adalah pembatasan mesin yang lebih sedikit untuk tim pabrikan menjadikan Rossi terlihat begitu boros menghabiskan kuota mesin yang ditetapkan.

Kesimpulannya, secara problem rangka dan body sebagian besar sudah terpecahkan. Hanya sektor mesin yang butuh pengembangan lebih lanjut. Upaya menjinakkan Desmosedici yang terlalu besar pada torsi menjadikan motor secara keseluruhan jadi terasa understeer atau bahasa mudahnya tetap saja sulit dikendalikan.

Pengembangan mesin jelas membutuhkan sampel kuota mesin yang lebih banyak, inilah alasan Gigi Dall’Igna memutuskan Ducati untukmemilih ‘Open Class’, urusan ECU standar yang jelas berbeda dengan ECU pabrikan yang bisa dikembangkan sesuka hati, ini adalah rencana lanjutan jika problem handling motor yang bersumber pada mesin telah teratasi dengan baik. (fnc)

___________________

Berita Terkait :

No Comments

Kolom Komentar