Review Tes Harian All New Honda CBR250RR MY 2017, Tantangan Jalur Macet Dalam Kota !!

Motomaxone.com – Pembaca sekalian, selama dua hari lamanya admin mendapatkan kesempatan untuk mereview dengan melakukan tes harian All New Honda CBR250RR . Diwaktu yang cukup singkat tersebut admin mencoba memanfaatkan waktu untuk mengulas lebih dalam tentang jagoan anyar honda di kelas sport fairing 250cc ini. Mau tahu ??

Untuk impresi singkat berkendara dari Honda CBR250RR ini sebenarnya sudah cukup lengkap admin ulas di artikel tes singkat CBR250RR pada 19 Desember 2016 lalu, jadi silahkan dibaca-baca kembali jika ingin lebih detailnya, nah karena saat itu tes singkat jadinya hanya sekilas saja merasakan performa dinamis All New CBR250RR ini.

RIDING POSITION

Riding position sejauh ini sama dengan ulasan sebelumnya, namun admin akan menambahkan beberapa hal yang belum sempat tersentuh di tes singkat sebelumnya.

Diantara 2 rivalnya, Honda CBR250RR ini ternyata memiliki riding position yang lebih sport dibandingkan kompetitornya tersebut. Setelah admin amati, ternyata pengaruh tersebut ada pada model stang underyoke yang dimiliki CBR250RR ini.

Dengan stang underyoke, posisi tubuh akan lebih membungkuk. Namun sejauh pengetesan kemarin, jangkauan tangan ke kemudi berada di level medium, alias tidak terlalu jauh dan tidak terlalu dekat. Buktinya dengan mencoba berbagai posisi riding, kedua tangan tetap lurus. Apakah kondisi tersebut akan membuat pegal ??

Tentu saja karena posisi tangan terus menerus lurus, disini dibutuhkan trik mengendarai motor sport fairing seperti CBR250RR dan sejenisnya ini. Kondisi tangan tidak disarankan terus menerus diposisi lurus berlama-lama, jika menghindari lubang, menikung dan pergerakan lainnya, kedua tangan perlu rileks sejenak dengan menekuk.

Tumpuan genggaman juga tidak disarankan langsung di telapak tangan bagian tengah, namun tumpuannya ada diantara jempol dan telunjuk sehingga beban membungkuk tidak tertumpu pada telapak tangan tengah ya bro… nah yang mengeluh cepet pegel berarti belum terbiasa dengan motor sport fairing.

Admin yang sempat mencari-cari trik agar tidak mudah pegal ini, perlu waktu yang cukup lama menemukan posisi yang pas. Maklum, bawaan harian admin adalah motor bebek dan matic, jadi beda jauh sensasinya meskipun sering kali mengetes motor-motor batangan seperti ini. So perlu adaptasi lagi lah…..xixixixi….

RIDING MODE COMFORT – SPORT – SPORT+

Dari tes harian didalam kota malang, ketepatan admin mendapatkan waktu minggu dan senin. Kondisi hari minggu, adalah padat-padatnya lalu lintas di dalam kota malang, meskipun tidak semua jalur mengalami kemacetan.

Memahami performa dinamis yang mana CBR250RR ini memiliki 3 riding mode yang bisa diubah dengan singkat juga membutuhkan waktu dan keterbiasaan. Riding mode Honda CBR250RR disetting default di mode SPORT. (Riding Mode CBR250RR = COMFORT-SPORT-SPORT+)

Awalnya admin melihat potensi mode COMFORT bakal pas untuk kondisi macet yang berkarakter STOP n GO, tapi ternyata admin salah….gubrak….. we..ka..we..ka..we..ka…

Dengan riding mode COMFORT, akselerasi jadi kurang ngejambak. Jadi menurut admin sih, untuk melibas kemacetan yang berkarakter STOP n GO, diperlukan akselerasi yang lebih mumpuni. Mode comfort lebih tepat untuk jalan santai, seperti putar-putar diperumahan atau jalan santai luar kota.

So, pindahlah admin ke mode SPORT. Meskipun menggunakan mode SPORT yang memiliki akselerasi lebih galak ketimbang mode comfort, admin yang sering menggantung RPM di angka 3000RPM karena kondisi macet tidak mengalami gejala ndut-ndutan.

Bagaimana dengan SPORT+ ?? Mencoba sport+ pun tidak lebih baik di kondisi jalan yang crowded dengan kemacetannya. Output torsi yang lebih liar dan ganas menjadikan motor kurang nyaman dikendalikan saat buka tutup tuas kopling. Namun kalau untuk kebutuhan akselerasi monster, dijalanan yang lebih luas tanpa banyak hambatan seperti jalan luar kota hingga tes drag maka SPORT+ lebih mantab untuk mengeksplore performa ganas dari Honda CBR250RR.

HANDLING

Untuk urusan handling motor sport 250cc, berikut juga model full fairing tentu berbeda pengalaman masing-masing pengguna. Admin sendiri sudah cukup familiar dengan handling motor 250cc, tak terkecuali Honda CBR250RR ini.

Jika dalam kondisi mesin mati tak berjalan, yang repot-repot memindahkannya karena memang beban motor ini cukup berat meskipun terlihat lebih ramping dari Ninja 250FI. Admin sendiri bisa menyeret dengan memegang bagian buritan untuk memindah posisi parkir misalnya, namun usaha tersebut berdampak membakar kalori yang tak sedikit.

Beda diam, beda lagi dengan kondisi jalan. Melibas kemacetan didalam kota, dengan meliak-liuk disela kendaraan lain, bisa admin atasi dengan mudah. Catatan penting yang tak kalah perlu diperhatikan adalah aksi selap selip admin diantara kendaraan lain seperti mobil, tidak dalam kondisi spion dilipat ya bro… buktinya admin bisa tuh selap selip di kemacetan… so yang beralasan melipat spion agar mudah selap selip di kemacetan itu adalah HOAX, jangan dipercaya dan tidak perlu ditiru. #percayadeh.

Jarang sekali manuver panjang yang admin lakukan di dalam kota, karena memang kondisi lalu lintasnya demikian adanya. So, untuk urusan handling, Honda CBR250RR termasuk dalam kategori yang ringan untuk kelas 250cc.

SPEEDOMETER

Bahasan tentang speedometer kali ini adalah tentang visibilitas negatif mode dari dashboard spidometer milik Honda CBR250RR. Ditengah perjalanan dengan matahari yang terik dalam tes harian all new honda CBR250RR ini kelebihan negatif mode ini, masih bisa dengan jelas melihat berbagai informasi yang ditunjukkan layak LCD Full Digital milik Honda CBR250RR tersebut.

Manfaat lainnya dari visibilitas spidometer yang admin rasakan kemarin adalah adanya informasi waktu pada dashboard sehingga admin bisa mengetahui waktu untuk istirahat seperti waktu dhuhur dan ashar. Selain itu, informasi temperatur radiator dengan model bar juga mebantu untuk memberikan informasi bahwa kipas radiator menyala karena temperaturnya meningkat.

TRANSMISI

Honda CBR250RR mengusung transmisi manual dengan 6 percepatan. Pada kenyataannya, admin sempat mengalami kejadian berulang dimana saat memindah gigi ke posisi 2, indikator persneling malah menunjukkan posisi netral.

Setelah admin coba lagi dan lagi, ternyata proses menekan gigi persneling mundur dengan mengungkit kurang keras sehingga berkesan ½ persneling yang akhirnya membuat posisi persneling menjadi netral.

KEKURANGAN

Catatan kekurangan ini berkaitan dengan tes harian all new honda CBR250RR saat mengalami kemacetan dalam kota, jadi tidak ada hubungannya dengan desain, kualitas material dan sebagainya diluar bahasan yang tertera pada judul bahasan.

==

Honda CBR250RR ini dirancang dengan karakter motor performa tinggi. Oleh karena itu, kompresi tinggi yang dimiliki motor ini juga mempengaruhi cepat atau lambat mesin mencapai kondisi panas. Admin yang melakukan tes dengan setelah celana jeans dan sepatu vantofel, sangat merasakan hawa panas dari bagian mesin yang mengarah ke bagian lutut dan paha.

Hal ini memang bisa dimaklumi karena dengan kondisi macet dan panas, mesin yang dalam kondisi idle ini tentu juga akan lebih panas karena tidak mendapat hembusan angin. Fungsi kipas radiator sendiri membantu proses pendinginan mesin dari proses pendinginan cairan di kisi-kisi radiator, sedangkan arah buangan kipas radiator kebanyakan juga mengarah ke bagian belakang.

So, kondisi seperti ini memang menjadi resiko mengendarai motor dengan karakter hi perform, bukan hanya CBR250R, akan tetapi motor sekelas bahkan dengan kapasitas mesin lebih besar pun juga demikian kondisinya.

==

Kembali dengan masalah transmisi, admin merasakan transmisi persneling di setiap gigi cenderung kurang lembut, terutama saat melakukan down-shifting saat deselerasi. So, untuk kedepannya honda perlu merencanakan untuk menyematkan teknologi Assist Slipper Clutch seperti yang diakomodir melalui teknolgi motor balap.

(red)

noted : review suspensi, jok dan beberapa yang belum dibahas disini akan admin review di bahasan selanjutnya.

BERITA TERKAIT :

Tingalkan Jejak Dengan Tulisan...