Coretan : Inefisiensi Yang Bahkan Tak Disadari

Brosis, mengawali hari yang cerah meski masih terlihat sekelebat awan putih tak membuat semangat semua orang menurun hari hari ini. Mencoba menggali informasi, ketemu sebuah angka-angka penjualan motor yang cukup membuat mata terbelalak.

Yah begitulah, makin hari atpm motor ataupun mobil berburu konsumen untuk melariskan dagangannya. Adalah hal wajar, namun disaat setiap bulannya angka tersebut meningkat benar-benar mencengangkan. Dibulan oktober saja penjualan motor mencapai 634.575. Jika dihitung sejak Januari-Oktober tercatat 6.025.697 motor telah terjual dari berbagai atpm.

Bukan hal yang salah sebenarnya, mengingat membeli sebuah produk dalam hal ini ‘motor’ merupakan refleksi dari peningkatan taraf hidup masyarakat itu sendiri. Bergerak maju berarti kesejahteraan hidup dapat dinilai meningkat. Ini jika dihitung dari record pembelian secara fungsi.

Belum lagi pembelian dengan tujuan tren, pembelian barang baru sebagai pengganti barang lama. Padahal secara fungsi, kendaraan yang dipakai tersebut hanya berfungsi sama dengan sebelumnya. Disinilah pola pikir ‘mindset’ masyarakat dibentuk. Membeli barang baru dianggap wah… padahal jika berkaca pada fungsi malah terjadi inefisiensi dalam pembelian produk baru tersebut.

Jika motor sebelumnya adalah tipe karburator, dan sekarang membeli motor tipe injeksi terjadi penghematan khususnya bahan bakar karena tipe injeksi diyakini dapat lebih membuat irit bahan bakar yang digunakan. Pola pikir terbentuk, banyak orang berbondong membeli motor injeksi. Tren injeksi nih, nggak injeksi nggak keren, pikirnya!!

Namun, jika tidak dibarengi pengereman keinginan untuk sesuatu yang lebih maka penghematan tersebut akan menjadi pemborosan yang kunjung selesai. Motor lama dengan cicilan yang sudah lunas misalnya, pemilik hanya akan terbebani pajak setiap tahunnya dan bahan bakar tentunya. Namun, dengan membeli barang baru berjuta lagi uang yang dikeluarkan untuk kembali membuat cicilan lagi, begitu pula yang bertransaksi tunai. Bukankah ini termasuk inefisiensi dana?

Motor baru pun digeber, kok gitu-gitu aja larinya. Bahkan dijalan sering kalah beradu dengan motor karburator. Woh,,, nggak keren nih injeksi dikalahkan karburator. Pergilah ke bengkel, beli part racing pendongkrak tenaga. Motor diperboros dan dibekali part racing supaya lebih ngacir. Tak ketinggalan part modifikasi yang memperbagus penampilan. Nah lho, kalau begini nggak sesuai dengan fungsi awal membeli motor injeksi supaya lebih hemat dong? Lagi-lagi inefisiensi dana nih. Padahal jika difikir-fikir, di-overtake dijalan sekalipun nggak bakal kok ketinggalan karena lalu lintas juga sebegitu padatnya.

Melubernya kendaraan dijalan tak dibarengi dengan infrastruktur jalan yang layak. Aspal bergelombang, berlubang dan sebagainya. Menjadikan kenikmatan berkendara seolah terusik, nyawa pun terancam.

Saya begitu menyukai berkendara dengan motor namun mengapa tetap memakai bluemx? Ya seperti tadi yang saya jelaskan. Harus benar-benar difikirkan dampak dari penggantian ke produk baru. Ingin juga sih membeli new vixion dan cb150r misalnya. Namun, saya juga tahu jikalau perawatan motor batangan akan lebih mahal dibandingkan moped, begitu pula spare partnya pasti lebih mahal. Nggak percaya? Coba cek saja brosis.

Saya suka touring dengan motor, menempuh perjalanan 2-3 jam dengan teman-teman yang juga suka touring adalah hal menyenangkan. Namun meski suka motor, tidak berarti kemana-mana saya pakai motor, saya tahu batas. Saya pernah melakukan perjalanan dari malang – ke surabaya PP dengan motor. Melelahkan bukan main apalagi penempuh perjalanan berjam-jam. Banyak yang menganggap perjalanan jauh dengan motor lebih murah, namun banyak yang tak menyadari resiko yang mengancam. Resiko kecelakaan, resiko kelelahan dan sebagainya.

Beberapa waktu lalu, saya mencoba melakukan perjalanan dari malang – surabaya PP namun tanpa motor. Saya coba naik bus, lebih nyaman dengan memilih bus PATAS dengan tarif lebih mahal dari bus biasa. Begitu nyaman, duduk didepan mengamati padatnya lalu lintas. Sangat nyaman, pulang pergi tak banyak tenaga yang terbuang. Kesehatan lebih terjamin, karena berada di ruang tertutup, jauh dari pekatnya emisi gas buang sebagai polusi udara jalanan. Capek? Iya, duduknya yang capek. Namun, setidaknya inefisiensi tenaga dapat saya minimalisir. (fnc)

No Comments

Kolom Komentar